Home / SEKILAS MILITER / PROGRAM BELA NEGARA : CARA AMPUH ANTISIPASI BAHAYA NARKOBA !

PROGRAM BELA NEGARA : CARA AMPUH ANTISIPASI BAHAYA NARKOBA !

Rasanya mungkin terkesan naif apabila kita mau mempertemukan kedua hal yang bertolak belakang yaitu narkoba dan kesadaran bela negara dalam satu wadah, sehingga mampu berkohesi secara sempurna. Narkoba sudah lama dikenal sebagai salah satu mesin pembunuh yang sangat efektif dengan fase-fase kerusakan mengerikan, sebelum mengalami kematian total yang sebenarnya, pecandu terlebih dahulu terlihat mengalami depresi berat, kehancuran mental dan moral yang akut serta tidak memiliki kuasa mengontrol kesadaran diri. Dengan perilaku kecanduan sepanjang umur dan cenderung antisosial ditambah dampak ikutan segudang gangguan atau penyakit seperti jantung, hemoprosik, traktur urinarius, otak, tulang, pembuluh darah, endorin, kulit, sistem syaraf, paru-paru, sistem pencernaan, HIV/AIDS, Hepatitis, Herpes, TBC, maka sepadan kiranya apabila pecandu narkoba dapat diillustrasikan secara simbolitas laksana, “tubuh tak berjiwa dan tak bertuan” kosong tanpa arah dan harapan masa depan.

Selaras dengan pecandu, telunjuk kita juga mengarah pada pengedar, bandar/gembong dan semua orang yang masuk sindikat jaringan narkoba baik lokal, nasional dan internasional dimana pada pemetaan sudut pandang ini dapat dipastikan masuk zone merah, mengingat sepak terjangnya jauh dari pertimbangan hati nurani, dibenak pikiran hanya ada uang, kesenangan dan memperkaya diri secara instan, tak peduli barang haram yang dijual telah memakan korban puluhan hingga jutaan nyawa melayang.  Sementara lainnya, korban yaitu pecandu kronis menjalani hidup bak zombies, ini faktual bukan isapan jempol ! Contohnya, media cetak, elektronik dan on line pernah heboh mengangkat pemberitaan tentang, “Krokodil Drug, Narkoba Baru Pembuat Zombie”. Krokodil drug, salah satu varian narkoba racikan Iodine, Codein, Asam Klorida, Fosfor Merah dan Bensin mengakibatkan efek mengerikan bagi pemakainya yaitu daging beserta kulit akan jatuh seperti meleleh dari tubuh, mengalami pneumonia, keracunan darah, kerusakan arteri dan meningitis, tragisnya tidak ada obat penyembuh selain diamputasi. Desomorfin buatan sendiri, demikian narkoba unik ini dikenal di negara Rusia pertama kali muncul, bahkan kasus kanibalisme ternyata beberapa diantaranya dilakukan oleh ‘junkers’ pecandu narkoba jenis ini.

 Lalu, bagaimana bisa mengkaitkan narkoba dengan bela negara? Bukan bermaksud memaksakan, sejatinya terdapat simpul yang bisa ditarik untuk menelusuri korelasi keduanya. Menurut data penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) diperkirakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia terus mengalami peningkatan pada stiap tahunnya, diprediksi prevalensi pengguna narkoba menyentuh angka 5,1 juta orang. Keterangan lebih lanjut, Slamet Pribadi Humas BNN menyebut sebanyak 53 % penduduk Indonesia berusia 30 tahun terjerat kasus narkoba dan rata-rata 33 orang meninggal dunia setiap harinya (Jelajahi : http://www.portalindonesianews.com).  Berarti jika dipra-anggapkan perang, hampir lebih satu peleton prajurit menjadi korban secara sia-sia setiap hari, sungguh korban narkoba lebih dahsyat dari korban perang dengan menggunakan kekuatan militer. Berdasar logika berpikir, kita tentu akan sepakat bahwa, “mengharapkan mereka para generasi muda terpapar narkoba dengan tingkat ketergantungan yang tinggi agar dapat berperan sebagai mesin-mesin penggerak perekonomian dan pendorong laju pembangunan kiranya menjadi absurd. Alih-alih bela negara yang sarat nilai kemanfaatan bagi masa depan kemajuan bangsa, untuk mengurus dan mengatur diri sendiri saja tidak mampu dan harus melibatkan campur tangan orang lain, keluarga inti dan masyarakat sekitar tinggal.” Namun demikian, bukan lantas jutaan warga Indonesia korban narkoba bisa disia-siakan begitu saja karena pada dasarnya mereka masih potensial untuk dapat diselamatkan. Menjadi tanggung jawab bersama menuntaskan dengan gerakan nasional secara bersinergi, terintegrasi dan berkelanjutan dari aparat (Kepolisian-BNN-TNI) melibatkan seluruh stake holder.

Narkoba tidak pandang bulu mengambil embrio komunitas untuk berkembang biak justru ditempat yang dinilai sangat aman selevel asrama TNI-Polri juga telah menjadi sasarannya, dengan asumsi susah disentuh penegak hukum. Berkaca dari kasus penggerebekan di berbagai lokasi seperti Koja Jakarta Utara, kampung Ambon Cengkareng, Muara Bahari Tanjung Priok, penggerebekan bandar narkoba di Jepara termasuk eks asrama BS dan Berlan, dapat dipastikan bahwa perang melawan narkoba tidak lagi dapat dipandang sepele atau ‘hangat-hangat tahi ayam. Memanfaatkan momentum perang melawan narkoba dalam rangka mendukung kebijakan pemerintah dan membantu Polri, Kodam Jaya sesuai instruksi Pimpinan TNI, tegas akan menindak oknum anggota yang terlibat berupa pemecatan dari dinas militer serta mengambil langkah progresif melakukan penertiban asrama-asrama/rumah dinas demi menetralisir pengaruh buruk lingkungan pergaulan serta gangguan keamanan dan ketidak-nyamanan yang ditimbulkan di tengah dinamika sosial kemasyarakatan.

Selain itu, menindaklanjuti inisiasi Kementerian Pertahanan bekerjasama dengan Pemda, Swasta, kampus/sekolah dan lembaga swadaya masyarakat termasuk menggandeng pesantren, memanfaatkan lembaga pendidikan Rindam Jaya juga satuan-satuan batalyon dibantu peran tiga pilar keamanan dan ketertiban masyarakat, Kodam Jaya proaktif melaksanakan pendidikan dan latihan serta orientasi dasar bela negara dengan materi wawasan kebangsaan dan bela negara kepada warga masyarakat ibukota untuk mensukseskan Program Bela Negara hingga tercapai target sasaran 100 juta warga Indonesia dalam waktu 10 tahun. Program Bela Negara prakarsa pemerintah dinilai efektif menyasar Warga Negara Indonesia usia produktif demi menumbuhkan kesadaran atas wawasan kebangsaan, kecintaan pada tanah air dan ketahanan nasional secara massal dan ini merupakan bagian solusi yang bisa diarahkan dalam kerangka perang melawan narkoba dengan misi penyelamatan nasib generasi penerus dari ancaman tragis bersifat non-militer.

Melalui Program Bela Negara, diharapkan semakin banyak elemen bangsa yang menyadari akan eksistensi jati diri untuk selanjutnya sesuai potensi dan kapasitas masing-masing, bergerak bahu membahu menghadapi tantangan dan setiap persoalan yang terjadi disekelilingnya. Pembekalan dan pelatihan serta kegiatan-kegiatan positif terhadap Kader Pembina, Kader Bela Negara dan Kader Muda berisikan materi kurikulum meliputi cinta Tanah Air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara serta Pancasila sebagai ideologi negara menjadi yang relevan untuk ditempuh agar generasi muda secara sadar dan mampu memproteksi diri serta membantu mewujudkan pergaulan lingkungan yang bersih dari pengaruh narkoba. Perang Melawan Narkoba dengan target sasaran menyelamatkan 5,1 juta jiwa korban narkoba harus dimulai dari mereka yang belum terkontaminasi dengan salah satunya bisa mengandalkan Kader Pembina, Kader Bela Negara dan Kader Muda-out come Program Bela Negara. Target sasaran bidik bela negara meliputi; Pertama. Bagaimana menjauhkan orang-orang sekeliling kita yang masih bersih, dari setiap upaya yang awalnya sekedar memenuhi dorongan rasa keingin-tahuan, ingin mencoba hingga akhirnya terkontaminasi dan terperosok kedalam jerat narkoba. Kedua. Rehabilitasi para pecandu hingga kembali menjalani kehidupan normal. Ketiga. Membantu aparat dengan memberikan informasi penting terkait penumpasan jaringan narkoba, sehingga out come Program Bela Negara mampu berperan sebagai agen-agen sekaligus pelopor dalam perlawanan terhadap bahaya narkoba di lingkungan masing-masing.

Narkoba berikut jaringan sindikatnya telah menempatkan Indonesia bukan lagi ‘sasaran antara’ atau tujuan sampingan melainkan ‘pangsa pasar utama’, disinilah perang dalam konteks modern implementasi bela negara, menemukan ruang aktualisasi, menginggat penyelamatan nyawa generasi penerus dari bahaya kehancuran moral dan mental akan senilai dan berbanding lurus dengan apa yang dilakukan oleh para pejuang pendahulu pada masa pembebasan bangsa dari belenggu penjajahan. Klaim Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu atas efek daya penggentar apabila Program Bela Negara mencapai sasaran yang diharapkan, patut disikapi dengan penuh optimistik, “Bayangkan dengan 100 juta warga Indonesia bersedia membela negara dari semua hal yang merugikan”, termasuk perang melawan narkoba, tentu pengaruhnya akan signifikan. Program Bela Negara yang saat ini terus berjalan, menemukan momentum sebagai upaya penguatan jati diri, mensterilkan alam pemikiran dan  kejiwaan generasi muda bangsa dari ancaman kehancuran fisik, penggerusan kualitas mental serta moral sekaligus instrumen antisipasi menghadapi dimensi ‘proxy war’ yang mengambil medan perang bertajuk ‘Darurat Narkoba, say no to drug’.

Aris Puji Santosa

About admin media center

Check Also

Dirgahayu Korps Arhanud TNI AD “Vyati Rakca Bhala Cakti”

Related

%d bloggers like this: