Home / SEKILAS MILITER / Normalisasi Eks Gafatar : Totalitas Babinsa Berperan

Normalisasi Eks Gafatar : Totalitas Babinsa Berperan

Ribuan orang mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Desa Moton, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat terusir, karena permukiman mereka dibakar warga, Selasa 19 Januari 2016 lalu. Warga setempat menolak keberadaan mereka lantaran banyaknya orang yang hilang di berbagai daerah, terkait organisasi tersebut.  Mereka pun ditampung di pengungsian untuk dipulangkan ke daerah asal. Jumlah pengikut Gafatar yang berada di tempat pengungsian lebih dari dua ribu jiwa. Mereka terbagi dalam dua tempat penampungan pengungsi. Pertama di kamp Bekangdam XII /Tanjungpura, dan  Kedua di kamp Kabupaten Kuburaya.

Sebagian besar dari pengungsi eks Gafatar yang menjadi korban pembakaran dari massa, pada kenyataannya mereka tidak terlibat terlalu jauh terhadap organisasi Gafatar. Memang ada yang secara sukarela bergabung, akan tetapi banyak karena latar belakang ekonomi yang menyebabkan keikutsertaan mereka, karena dijanjikan untuk memulai hidup lebih layak dengan ditawari sebuah pekerjaan, sehingga menjadikan mereka bagian dari Gafatar dengan tanpa bermodal apa-apa terlibat sebagai bagian organisatoris. Oleh sebab itu, kita semua  harus jeli menyikapi keberadaan pengungsi eks Gafatar terutama terhadap mereka yang terlibat Gafatar dikarenakan oleh minimnya pengetahuan dan pemahaman terhadap wawasan kebangsaan yang utuh.

Dengan menggunakan pesawat udara dan armada kapal perang KRI milik TNI AL, para pengungsi eks Gafatar diangkut untuk dipulangkan ke masing-masing kampung halaman.  Akan tetapi dengan dilakukannya proses pemulangan, bukan berarti problem telah terselesaikan dengan tuntas. Sebaliknya persoalan eks Gafatar justru kian kompleks sehingga dibutuhkan penanganan yang lebih komprehensif dari aparat terkait.

Kota Jakarta adalah salah satu tempat sementara yang digunakan untuk menampung para pengungsi eks gafatar sebelum dipulangkan kekampung halaman masing-masing. Ada beberapa tempat di Jakarta yang digunakan sebagai tempat penampungan antara lain, Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) bambu apus Jakarta Timur, Panti Sosial Bina Insani, Gedung Wiladatika Cibubur dan asrama haji Pondok Gede.

Kodam Jaya/Jayakarta selaku Komando Kewilayahan ikut serta berperan aktif, bersinergi dengan instansi terkait untuk menyelesaikan permasalahan pengungsi eks Gafatar. Dengan mengedepankan  peran aparat kewilayahan dalam hal ini para Bintara Pembina Desa (Babinsa). Ada dua hal yang menjadi fokus perhatian dalam penanganan masalah, yaitu : pertama fokus pada penanganan pengungsi pada saat berada dipenampungan yang berupa pemulihan fisik dan psikologis dari para pengungsi dan menanamkan nilai-nilai agama yang benar serta mengembalikan rasa nasionalisme dan jiwa kebangsaan kedalam diri para pengungsi. Yang kedua adalah reintegrasi para pengungsi atau mengembalikan dan menyatukan dengan para pengungsi kedalam keluarga serta lingkungannya kembali.

Ditempat penampungan sementara, ditemui banyak para pengungsi dalam kondisi lemah dan sakit, dan dapat dirasakan banyak yang masih merasakan rasa trauma dan ketakutan atas terjadinya peristiwa penyerangan terhadap perkampungan mereka oleh penduduk setempat. Kehilangan harta benda karena dibakar oleh penduduk setempat, jelas menimbulkan kesedihan yang mendalam. Kondisi seperti ini dapat dimaklumi karena mereka sekarang dapat dikatakan telah kehilangan harta benda dan harapan, hal ini jika dibiarkan akan menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan yang akan berimplikasi buruk kedepan. Untuk mengatasi permasalahanl ini selain peran dari ahli kesehatan, agama dan psikolog yang telah disiapkan oleh instansi terkait di tempat pengungsian melalui program trauma healing atau pemulihan trauma, para Babinsa juga harus ikut bersinergi untuk memulihkan kejiwaan para pengungsi. Pendekatan dari hati ke hati melalui komunikasi secara personal dari para Babinsa untuk dapat memberikan keyakinanan atas rasa  aman  dan nyaman  terhadap kondisi  di pengungsian,   dan keadaan yang sama pada saat nanti bersatu lagi dengan keluarga dan lingkungan yang telah mereka tinggalkan.

Salah satu permasalahan yang diketemukan ditempat berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan sekelompok anak-anak eks Gafatar dipenampungan, pada waktu diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya ataupun lagu-lagu nasional  mereka tidak bisa, namun malah mereka menyanyikan lagu mars gafatar. Hal ini menunjukkan sudah terjadi proses penghilangan rasa Nasionalisme dan Rasa Kebangsaan didalam diri anak-anak eks Gafatar. Disini dituntut penguatan kembali rasa nasionalisme dan kebangsaan didalam jiwa seluruh pengungsi eks Gafatar, apalagi dari hasil pendataan 60% pengungsi adalah anak-anak yang merupakan pemilik negara ini dimasa depan, jika nasionalisme luntur dan hilang pada diri generasi muda, maka nantinya negara akan dapat dengan mudah ditembus oleh pihak luar.

Para Babinsa ditempat penampungan dituntut berkreasi mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan kembali nilai-nilai agama yang benar dan rasa nasionalisme, banyak kegiatan yang telah dilakukan antara lain dengan mengajak anak-anak menyanyikan lagu-lagu nasional, sehingga dengan hal tersebut semangat nasionalisme di jiwa eks Gafatar yang sudah tergerus oleh pemahaman-pemahaman yang menyimpang dapat mulai tumbuh dan tertanam dengan kuat. Para Babinsa juga aktif memberikan penyuluhan-penyuluhan yang sifatnya menimbulkan rasa bangga dan cinta tanah air kepada para pengungsi, mengadakan kegiatan upacara bendera dan pengenalan kegiatan baris berbaris kepada anak-anak sehingga menaikkan nilai nasionalisme dan kebangsaan.

Fokus yang kedua adalah proses reintegrasi keluarga, Babinsa melakukan pendataan warga binaanya yang terpengaruh Gafatar, dan mencari tahu seberapa besar tingkat keterpengaruhannya. Latar belakang keluarga dan lingkungan juga menjadi perhatian. Hal ini dilakukan jangan sampai nantinya setelah para pengungsi eks Gafatar ini dikembalikan ke keluarga mereka akan timbul penolakan ataupun pengucilan terhadap mereka. Karena perlakuan dari lingkungan dan keluarga yang dirasakan tidak nyaman oleh para eks Gafatar, dapat menjadi pemicu mereka kembali bergabung ke kelompoknya.

Peran Babinsa dengan bersinergi dengan aparat kepolisian, pemerintahan, tokoh agama dan seluruh elemen lainnya seperti organisasi penggiat sosial, perlindungan anak, psikolog, lembaga pengembangan swadaya masyarakat untuk dapat mengajak masyarakat menciptakan kondisi yang nyaman dengan menerima kembali kelompok eks Gafatar kedalam lingkungan dengan tangan terbuka, dirangkul kembali kekomunitas karena mereka hanyalah korban indoktrinisasi, ini merupakan hal utama untuk membuat kesadaran para eks Gafatar akan kesalahan yang telah diperbuat dan tidak akan lagi terulang.

Ketidakmampuan para eks Gafatar mengelola konflik dan kesadaran atas diri selaku pribadi maupun sebagai individu serta makhluk sosial sebagai sumber permasalahan awal, memerlukan langkah secara terintegrasi melibatkan para Babinsa dengan seluruh stake holder.  Keberhasilan dalam penanganan yang komprehensif akan dapat memutus mata rantai efek domino yang ditimbulkan oleh fenomena eks Gafatar di masa yang akan datang, terutama potensi aspek kerawanan keamanan dan stabilitas kehidupan sosial masyarakat. Setelah tercipta kondisi yang diharapkan, Babinsa dengan segenap unsur terkait harus terus melakukan pembinaan dan pemantauan dan pendampingan secara langsung sehingga setiap perubahan kondisi eks Gafatar baik positif maupun negatif dapat dideteksi dengan cepat sebagai early warning system.

About admin media center

Check Also

Dirgahayu Korps Arhanud TNI AD “Vyati Rakca Bhala Cakti”

Related

%d bloggers like this: