Home / SEKILAS MILITER / KODAM JAYA, PT PLN dan Kader Pembangunan Bangsa

KODAM JAYA, PT PLN dan Kader Pembangunan Bangsa

MATAHARI tepat berada di atas kepala saat Agus Sulistiono, pria  berumur 57 tahun bersama 150 teman-temannya yang lebih muda darinya berbaris rapi di lapangan Secata Rindam Jaya Jakarta. Berbalut setelah hijau tentara yang telah basah oleh keringat, Agus tanpak antusias dan semangat mendengarkan arahan dari sang pelatih.

Meski usianya sudah tak lagi muda, namun agus tetap menaruh harapan besar seperti layaknya pemuda-pemuda lain yang ikut berlatih bersamanya. Agus merupakan salah satu dan menjadi yang paling tua usianya diantaran 150 pemuda lain yang menjadi peserta kader pembangunan bangsa.

            Kader pembangunan bangsa merupakan sebutan untuk peserta yang melakukan pendidikan latihan wawasan kebangsaan dan keterampilan gelombang I di wilayah Kodam Jaya Jayakarta tahun 2016. Pelatihan itu merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara PT PLN persero dengan Kodam Jaya pada bulan Maret yang lalu dsan dilaksanakan di Rindam Jaya.

            Pelatihan itu di buka Kasdam Jaya Brigjen TNI Ibnu Tri Widodo pada senin (11/4) di Rindam Jaya dan berl;angsung selama 26 hari sampai 2 Mei 2016. Para pesertya itu dididik dan dilatih untuk nantinya dapat menjadi tenaga baru bagi PT PLN.

            Asisten Teritorial Kasdam Jaya Kolonel Inf Arudji Anwar mengungkapkan, pelatihan kader pembangunan itu didasari atas keinginan Kodam Jaya untuk memanfaatkan seoptimal mungkin sumber darya manusia yang ada diwilayahnya khususnya para pemuda yang belum memiliki penghasilan tetap untuk bisa lebih bermanfaat di era pembangunan.

            Maka kita membuat sesuatu pelatihan kader pembangunan bangsa. Kita rekrut pemuda-pemuda yang ada di wilayah yang belum memiliki penghasilan tetap untuk bisa nanti kita manfaatkan mereka ke perusahaan-perusahaan yang mana mau menerima mereka nantinya. Tentunya dengan kita fasilitasi oleh Babinsa dan mitra-mitra Babinsa,” kata kolonel Inf arudji Anwar.

     Berikut wawancara khusus wartawan Harian Pelita dengan Aster Kasdam Jaya Kolonel Inf Arudji anwar :

– Sebenarnya visi misi dari Kodam Jaya apa terkait pelatihan kader pembangunan ini ?

            Visi dulu ya, Visi Kodam Jaya adalah untuk membuat pemuda dan masyarakat wilayah Kodam Jaya yang terdiri dari kota dan kabupaten untuk memanfaatkan sumber daya manusia. Manfaat seoptimal mungkin sumber daya manusia yang ada di wilayah Kodam Jaya khususnya para pemuda yang belum memiliki ataupun pekerjaan tetap untuk bisa lebih bermanfaat di era pembangunan ini. Dan dia lebih bermanfaat untuk pembangunan dan tidak menjadi manusia yang sia-sia. Kalau bermanfaat di pembangunan tentunya kan dia tidak akan membuat kebodohan contohnya  mau menjadi demontrasi bayaran, dia jadi begal, narkoba, karena apa, dia hanya mimpi setiap hari tapi nggak pernah terealisasi. Pertama dia jadi joki, tukang parkir, kemudian malak angko, akhirnya meningkat jadi kejahatan. Nah itu kita minimalisir dengan memanfaatkan sumber daya manusianya. Maka kita membuat suatu pelatihan kader pembangunan bangsa. Kita rekrut pemuda-pemuda yang ada di wilayah ya yang belum memiliki penghasilan tetap untuk bisa nanti kita manfaatkan mereka di perusahaan- perusahaan yang mana yang mau menerima mereka nantinya. Tentunya dengan kita fasilitasi oleh Babinsa dan mitra-mitra Babinsa.

– Landasan hukumnya apa TNI ikut melatih warga sipil ?

            Landasan hukumnya kami dari Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Operasi Militer Selain Perang yaitu membantu tugas-tugas pemerintahan di daerah. Kasmi membantu pemerintah di daerahdari mulai membantu ekonomi, ekonomi wilayah. Tentunya kalau banyak pemalak, banyak preman diwilayah yang menggangu roda perekonomian apa perekonomian akan berjalan dengan baik? Nggak kan. Polisi mau nangkap preman dan sebagainya oh belum ada kejahatan yang dia lakukan, ngga bisa. TNI mau nangkap preman eh nanti dulu pak, saya salah apa, ini tugas keamanan, tugas polisi. Maka bagaimana caranya ya kita bina dia. Yang belum memiliki pekerjaan tetap dan sebagainya kita bina.

– Bentuk kerjasama antara Kodam Jaya dengan PLN seperti apa ?

            Bentuk kerjasamanya, PLN dengan Kodam Jaya saat ini melakukan kerjasama dalam hal pendampingan. Jadi, beban kapasitas listrik di DKI Jakarta ini sudah overload. Dengan dibangun pabrik-pabrik baru, perumahan baru, sekarang sudah ada rusunawa (rumah susun sewa) dari Pak Akhok (Gubenur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama), apartemen-apartemen, mall dan sebagainya dan nggak mungkin itu distop. Contoh kapasitas listrik kita Cuma 150 terus pembangunan ini memerlukan 200. Maka kita harus mengikuti kebutuhan pasar. Untuk meningkatkan listrik menjadi 35.000 megawatt ini sangat besar. Program pemerintah ini adalah meningkatkan kapasitas kemampuan listrik di DKI ini dengan membangun pusat-pusat atau pembangkit-pembangkit listrik baru. Nah PLN minta bekerjasama dengan Kodam Jaya untuk itu.

– Rindam jaya kan biasa melakukan pelatihan misalnya dengan perusahaan tertentu. Lantas bedanya dengan pelatihan ini apa ?

            Beda prinsipnya adalah, kalau yang didik calon pegawai pertamina, calon pegawai perusaaahn kelapa sawit, dia didik untuk disiplin, di didik untuk jadi pekerja keras, dia didik di situ untuk community building. Tapia pa yang kita lakukan sekarang, tantangannya lebih tinggi. Kenapa, karena mereka dibina, dilatih di sini selama sebulan. Kalau mereka yang saya sampaikan di atas tadi, calon pegawai bang milsalnya, kan mereka sudah punya goal. Mereka sudah punya masa depan bahwa mereka akan menjadi pegawai kan. Kita rekrut dari wilayah, kita rekrut dari tempat-tempat yang mereka nggak punya pekerjaaan contohnya terus kita bina, terus goalnya kemana. Apakah mereka calon pegawai tetap , nggak juga. Apakah mereka di tempatkan di perusahaan, nggak juga. Berat juga sebenarnya, sehingga itulah tantangan tersendiri Kodam Jaya khususnya Rindam untuk membina mereka. Misalnya saya menyuruh orang yang yang calon pegawai bank untuk jongkok, berdiri panas-panasan dijemur, mau nggak ? Mau karena ada goalnya, calon pegawai. Kalau ini, menyuruh orang latihan baris berbaris tanpa goal yang jelas. Tapi buktinya mereka mau, semangat mereka, itulah goalnya.

– Secara materinya sama dengan latihan yang biasanya ?

            Sama, paket itu. Karena paket-paket wasbang, wawasan kebangsaan, cinta tanah air, dia mempelajari dan kita kasih tahu tentang bahaya adu domba, proxy war. Itu kan bahaya. Kita lagi diadu domba ini .Kita lagi dijajah. Kita di ingatkan mereka kan. Sehingga kamu harus berbuat, kamu nggak boleh melamun, kamu nggak boleh narkoba. Terus keterampilan-keterampilan pendukung mereka untuk bisa bekerja.

– Pola rekrutmen seperti apa kok mereka mau ?

            Nah itu pola Binter (pembinaan teritorial), pola komunikasi sosial yang dilakukan oleh anak-anak kami di bawah. Oleh para Babinsa, Danramil dan sebagainya. Komunikasi sosial kan nggak sehari dua hari. Iming-iming goalnya adalah bahwakamu nanti di bina di sana menjadi orang yang disiplin, orang yang berguna dan mendampingi saya selaku mitra Babinsa. Berguna untuk negaramu, berguna untuk bangsamu. Dan kamu dalam bimbingan saya nanti. Tentu bimbingan saya kan nggak mungkin dalam bimbingan yang salah. Bimbingna yang baik kan. Babinsa juga kan punya relasi dalam komunikasi sosial. Ada perusahaan, ada teman, ada macem-macem, kan bisa dititipin itu. Dan dia dapat sertifikat pelatihan selama sebulan. Bayangkan, dapat keterangan psikologi, keterangan psikologi nggak murah lho. Kemudian keterangan kesehatan, keterangan selesai melaksankan pelatihan pendidikan. Itukan manfaat. Dari pada dia tidak memiliki apa-apa, Itulah goalnya sebenarnya. Bahwa mereka jadi orang yang bermanfaat. Makanya kader pembangunan bangsa.

 

– Selama ini apa yang sudah dilakukan Binter Kodam Jaya terkait pelatihan wawasan kebangsaan selain pelatihan ini ?

            Selain ini banyak sekali yang sudah kita lakukan diantaranya kita melakukan kader-kader cinta. Cinta tanah air, yang pesertanya anak-anak SMA. Itu nantinya jadi kader-kader cinta tanah air. Kalau nggak salah itu dilakukan di Rindam 400 oramg. Kemudian kita membina hamper 2000-an pemuda, ormas dan sebagainya dalam kegiatan bela Negara. Dan mereka dicatat nomor handphone sehingga dapat Kartu Merah Putih namanya, Kartu bela negara. Itu bagian dari bela Negara sebelum bela Negara digulirkan oleh Kemhan (Kementrian Pertahanan). Kita sudah. Dan itu sukarela. Jadi anak-anak sekolah, Menwa (Resimen Mahasiswa). Mereka volunteer.

– Sebetulnya pola-pola pelatihannya itu seperti apa ko bisa membuat seorang individu jadi disiplin ?

            Tentunya yang membuat revolusi bukan evolusi. Merubah dalam waktu sebulan, dalam waktu dua minggu, pasti ada ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan diantaranya pemaksaan. Kan di paksa itu. Kemudian intruksi-intruksi yang menbuat dia menurut, tapi buka kekerasan. Dibentuk contohnya, diawasi, dilarang, kan rata-rata begitu. Itu sebetulnya buka militerisme, tapi bagaimana mereka membentuk suatu revolusi mental., revolusi kepribadian dia dari itu. Biasanya bangun jam 7 jadi jam 4, tapi karena berangkat dari memang menyadari bahwa itu bagian dari pembianaan, mereka tidak protes. Setelah bangun jam 4 baru dikasih tau, begini lho, kamu rasakan bangun pagi ini, manfaat nggak, coba bangun pagi setelah itu senam kamu mandi terus ke tempat ibadah bareng. Di tempat ibadah kita juga sharing. Setelah itu kita makan tertib. Bagaimana sih makan itu, makan lambat makan cepat. Misalnya, hitungan tiga Ikan Bandeng yang sekaligus kepalanya habis bisa nggak, satu dua tiga habis. Ternyata bisa. Contohnya seperti itu kan. Banyak contoh yang lain, bagaimana menempatkan sepatu di sini sandal di sini. Itu hidup tertib. Nah dari situ kalau mereka sudah mengarah kedisiplin , maka kita akan mudah untuk mengarahkan kea rah yang baik. Kalau karakternya belum disiplim memang susah untuk diajak hal yang baik. Apalagi diajak untuk bela negara, apalagi diajak membantu atau menjadi komponen cadangan nasional nantinya.

– Apakah sarana prasaranan yang ada di Kodam Jaya sudah mengcover semua permintaan untuk pelatihan ?

            Dengan kesadaran bela negara  yang semakin meningkat, kita memang terus terang kadang-kadang membatasi karena minimnya dan keterbatasanya. Kan butuh tempat, butuh tenaga pelatih dan sebagainya. Tidak hanya rindam, tapi saya juga menyiapkan brigif, menarhanud, batalyon. Seperti anak-anak sekolah kemarin, nggak harus di  rindam. Kita tempatkan di batalyon saja. Tiga hari empat hari di batalyon naik tank, kemudian belajar bertani disitu. Kita lihat pesertanya. Kalau pesertanya SMA masih bisa di batalyon, kalau pesertanya yang membutuhkan pelatih yang memang concer ya kita pakai rindam. Karena di rindam ada Dodik Bela Negara.

About admin media center

Check Also

Dirgahayu Korps Arhanud TNI AD “Vyati Rakca Bhala Cakti”

Related

%d bloggers like this: